Bukan aku bukan dirimu,
tapi tentang serangkai tangkai2 teratai bunga layu,
merana pilu tenggelam dlm danau waktu,
menangis pelan terlupakan daratan membisu,
Lelah membosankan jiwa,
Hanya mentari jarang kadang menyapa,
Hangat,terik dan membakar lalu meninggalkan saja,
Pun rembulan seperti ikut tertawa,
Datang tersenyum,berkaca,
Pada bias cermin,hampa,dan akhirnya pergi tanpa bekas2 kata,
Patah lagi,hancur lagi,
Hati dan jiwa mati untuk yg keseribu kali,
Takkan hidup satu kali lagi,dan selamanya begini,
Tertidur dlm lelapnya penantian fiksi,
Imajinya mimpi dan yg takkan terjadi,
Teratai patah,hati yg pasrah,
Meluruh lemah,dan kalah,
Hati terluka tak bicara,
Jiwa tersembilu tak mengadu,
Biarkan saja waktu memandang,
Biarkan saja ruang menunggu mengundang,
Biarkan hati kosong,hilang dan melayang, layang sepanjang mata mampu memandang,
Smoga pagi pahami kan mengerti,
Dan menyejukkan dg embun2nya yg suci,
Membasuh rasa yg mati membeku sepi,
agar mampu berdiri dan menatap mentari,
Karna ini hnyalah risalah yg patah,
tentang jiwa yg patah,teratai yg patah
Kamis, 02 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar