Detik berlalu demi sebuah menit,
begitu pun menit dan menit saling berpegang demi sebuah jam,
berkorban demi hari,
hari dan minggu,bulan,tahun dan seterusnya.
Lalu berapa tahun untuk kita?
Berapa yg terlewatkan?
Berapa yg tersisakan?
Sedikit renungan,untuk kita,bahwa waktu kita adl terbatas,adl kesempatan,dan sberapa baik kah kita menggunakannya?seberapa bnyak kah waktu kita yg trbuang utk sesuatu yg salah?
[Tanya pd diri kita,dan jawab oleh diri kita]
Tapi malam ini,aq ingin berbicara tntang kata "menerima".
Tadi mlm aq liat di Beranda, dan ada salah satu tmen yg menulis status ini:
"belajar menerima,apa adanya".
Aq jd berpikir,menerima yg bagaimana maksudnya?
Menerima pasrah kah? Menerima bersyukur kah?
Menerima,pasrah?
Seorang murid,pada pembagian raport,nilai matik-nya merah,dia sangat menerima dgn pasrah.
Kedepannya,dia pun tdak berusaha belajar,brlatih agar nilai meningkat.
Mau jelek,mau bagus,dterima dgn pasrah,bkan bersyukur,tp karna malas berusaha?
Bagus kah??
Tapi sebaliknya,jika dia menerima dg brsyukur,
maka saat mendapatkan nilai jelek,padahal dia sudah belajar giat,dia menerima,tapi bukan terus pasrah,tapi dia pasti berpikir bhwa belajarnya mungkin kurang giat,atau kurang teliti mengerjakan soalnya,dan dia teruz berusaha dgn maksimal,hingga mendapatkan hasil yg maksimal.
Jadi,jangan asal menerima,karena dari menerima itu adalah salah satu yg menentukan kualitas kepribadian kita, pecundang kah kita yang hanya pasrah dgn kekalahan tnpa usaha?
Atau pejuang sejati kah kita yg bersyukur dg kekalahan,dan tetap berjuang hingga detik terakhir?
[skali lagi,ini hanya torehan hati,banyak yg kurang,dan yg perlu diperbaiki,boleh kritik,saran,setuju atau tidak,ada tambahan,silahkan ditulis].

0 komentar:
Posting Komentar